Heri Jaya Catatan Pribadi

Kehilangan Harapan dan Semangat Meraih Asa

Seseorang duduk dalam kesunyian memandang cahaya fajar setelah hujan

Kenapa disaat masalah datang bertubi-tubi harapan itu seperti sirna, semangat seperti hilang? Entah apa yang ada dipikiran ga bisa terungkap dengan panjang nya. Urat dikepala seakan-akan meregang dengan kencangnya. Torehan luka seperti mencabikcabik otak kiri dan membelah otak kanan. Semua berakhir tanpa khayalan.

Dogma paradis kehilangan arah, tuhan mennggerutu menatap masa depan. sulit sekali berkembang diatas bara luka dan keterpurukan.

Darah mendidih tanpa tungku, dada membara tanpa panas. Mulut menganga tanpa sang kata, dan tangan mengepal tanpa dendam.

Kemana larinya kebahagian? kemana larinya harapa? kemana larinya tangisan? kemana larinya sebuah pengharapan? Sirna dengan berbagai macam keinginan yang tak pernah terwujud, hilang tanpa bekas dan tanpa ujud.

Menyalahkan diri serasa tak berarti, mengasingkan diri serasa tak berdaya.

Menyakiti tangan kaki semakin tak terhenti, memusnahkan tubuh yang tak berdosa, melahirkan mereka ke tempat panas yang tak pernah bahagia.

Sampai akhir khayat menjadi jasad yang terlupakan.

Kapan imagi kebencian dan amarah ini berakhir? kapan otak bisa berpikir jernih dan mengalir? seribu tanya berbaluk luka akankah terus mengiringi perjalanan?

Entah… hanya kehidupan fana yang terus akan menuntunku menuju singgasana perbatasan antara dendam dan air mata.

Label: Catatan Pribadi